Pinterest

APRESIASI SASTRA

14 Pin177 Pengikut
Alhamdulillah, akhirnya Bang Asa, dkk. tiba juga di gubuk saya. Kami segera terlibat dalam perbincangan hangat; mulai soal sastra, pertemana...

Alhamdulillah, akhirnya Bang Asa, dkk. tiba juga di gubuk saya. Kami segera terlibat dalam perbincangan hangat; mulai soal sastra, pertemana...

Pembelajaran Apresiasi Puisi dan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia

Pembelajaran Apresiasi Puisi dan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia

Saya publikasikan kembali sebuah esai menarik karya Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi); salah satu penyair Indonesia asal Kalimantan Selatan yang cukup kreatif dan produktif. Tulisan ini cukup panjang karena disertakan juga beberapa puisi karya penyair asal Kalimantan Selatan yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi Memo untuk Presiden.

Saya publikasikan kembali sebuah esai menarik karya Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi); salah satu penyair Indonesia asal Kalimantan Selatan yang cukup kreatif dan produktif. Tulisan ini cukup panjang karena disertakan juga beberapa puisi karya penyair asal Kalimantan Selatan yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi Memo untuk Presiden.

Kembali ke KTSP, Mengapa Jadi Repot?

Kembali ke KTSP, Mengapa Jadi Repot?

Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi: Teriakan Paling Lantang Dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan Oleh : Esti Ismawati Jejak Batu Sebelum Cahaya karya Ali Syamsudin Arsy adalah buku puisi ketujuh (paling akhir) terbitan Framepublishing Yogyakarta, Oktober 2014, dari serial ‘Gumam Asa’, yang dimulai dari tahun 2009 (‘Negeri Benang pada Sekeping Papan’), dan …

Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi: Teriakan Paling Lantang Dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan Oleh : Esti Ismawati Jejak Batu Sebelum Cahaya karya Ali Syamsudin Arsy adalah buku puisi ketujuh (paling akhir) terbitan Framepublishing Yogyakarta, Oktober 2014, dari serial ‘Gumam Asa’, yang dimulai dari tahun 2009 (‘Negeri Benang pada Sekeping Papan’), dan …

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya; Sitor Situmorang. Sastrawan kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1923 itu dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya di Apeldoorn, Belanda, 21 Desember 2014 dalam usia 91 tahun. Semasa hidupnya, almarhum tergolong sebagai sastrawan yang cukup produktif dan kreatif. Bahkan, A. Teeuw menyebutnya sebagai penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya …

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya; Sitor Situmorang. Sastrawan kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1923 itu dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya di Apeldoorn, Belanda, 21 Desember 2014 dalam usia 91 tahun. Semasa hidupnya, almarhum tergolong sebagai sastrawan yang cukup produktif dan kreatif. Bahkan, A. Teeuw menyebutnya sebagai penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya …

Untuk mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi yang kondusif, Maria Utami berpendapat bahwa pemilihan bahan ajar menjadi faktor yang p...

Untuk mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi yang kondusif, Maria Utami berpendapat bahwa pemilihan bahan ajar menjadi faktor yang p...

berharap yang lain bicara, tak ada suara orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan daun rindang belantara, sementara kita di...

berharap yang lain bicara, tak ada suara orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan daun rindang belantara, sementara kita di...

Sebagai sebuah tafsir, cerpen tentu saja tak hanya sekadar mengalihkan berbagai fenomena hidup dan kehidupan itu ke dalam sebuah teks semata...

Sebagai sebuah tafsir, cerpen tentu saja tak hanya sekadar mengalihkan berbagai fenomena hidup dan kehidupan itu ke dalam sebuah teks semata...

Terlepas dari semua itu, yang pasti sebuah prestasi telah ditelorkan oleh Ali Syamsudin Arsi. Paling tidak, buku ini dapat menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Namun, semuanya tergantung waktu. Bagaimana pun juga, waktu tetap akan mengadili karya sastra ini.*

Terlepas dari semua itu, yang pasti sebuah prestasi telah ditelorkan oleh Ali Syamsudin Arsi. Paling tidak, buku ini dapat menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Namun, semuanya tergantung waktu. Bagaimana pun juga, waktu tetap akan mengadili karya sastra ini.*

Jumat, 1 April 2011, saya didaulat oleh sahabat-sahabat penggiat Kebun Sastra Kendal untuk mendampingi Gunawan Budi Susanto (atau lebih akrab disapa Kang Putu) untuk membedah buku kumpulan cerpen Jimat Kalimasadha bertitel Bom di Ruang Keluarga yang diterbitkan oleh Keluarga Penulis Kudus (KPK), Desember 2010.

Jumat, 1 April 2011, saya didaulat oleh sahabat-sahabat penggiat Kebun Sastra Kendal untuk mendampingi Gunawan Budi Susanto (atau lebih akrab disapa Kang Putu) untuk membedah buku kumpulan cerpen Jimat Kalimasadha bertitel Bom di Ruang Keluarga yang diterbitkan oleh Keluarga Penulis Kudus (KPK), Desember 2010.

Minggu, 10 April 2011, saya didaulat untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Sehari bertema “Menuju Pengajaran Sastra yang Apresiatif” yang digelar oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang di Gedung B1 Ruang 106 FBS UNNES.

Minggu, 10 April 2011, saya didaulat untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Sehari bertema “Menuju Pengajaran Sastra yang Apresiatif” yang digelar oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang di Gedung B1 Ruang 106 FBS UNNES.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman dua buku “Gumam” (Istana Daun Retak, April 2010 dan Bungkam Mata Gergaji, Februari 2011) d...

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman dua buku “Gumam” (Istana Daun Retak, April 2010 dan Bungkam Mata Gergaji, Februari 2011) d...

Bungkam Mata Gergaji adalah sebuah buku kumpulan gumam Ali Syamsudin Arsi,yang biasa disebut dengan panggilan Bung ASA, salah seorang sastraw...

Bungkam Mata Gergaji adalah sebuah buku kumpulan gumam Ali Syamsudin Arsi,yang biasa disebut dengan panggilan Bung ASA, salah seorang sastraw...


Ide lainnya
Asrul Sani seniman kawakan yang antara lain dikenal lewat Sajak Tiga Menguak Takdir bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin meninggal dunia hari...

Asrul Sani seniman kawakan yang antara lain dikenal lewat Sajak Tiga Menguak Takdir bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin meninggal dunia hari...

Alhamdulillah, akhirnya Bang Asa, dkk. tiba juga di gubuk saya. Kami segera terlibat dalam perbincangan hangat; mulai soal sastra, pertemana...

Alhamdulillah, akhirnya Bang Asa, dkk. tiba juga di gubuk saya. Kami segera terlibat dalam perbincangan hangat; mulai soal sastra, pertemana...

Minggu, 10 April 2011, saya didaulat untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Sehari bertema “Menuju Pengajaran Sastra yang Apresiatif” yang digelar oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang di Gedung B1 Ruang 106 FBS UNNES.

Minggu, 10 April 2011, saya didaulat untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Sehari bertema “Menuju Pengajaran Sastra yang Apresiatif” yang digelar oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang di Gedung B1 Ruang 106 FBS UNNES.

atu lagi tontonan publik menjelang Pilpres 2009 yang tak kalah seru adalah debat antartim sukses Capres-Cawapres.

atu lagi tontonan publik menjelang Pilpres 2009 yang tak kalah seru adalah debat antartim sukses Capres-Cawapres.

Ketika belajar di ruang kelas, idealnya anak-anak negeri ini bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, melainkan “bagaimana belajar dari sejarah” sehingga mampu menemukan nilai-nilai kearifan hidup yang akan sangat bermakna dalam upaya membangun peradaban bangsa yang jauh lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Nah, selamat berdiskusi!

Ketika belajar di ruang kelas, idealnya anak-anak negeri ini bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, melainkan “bagaimana belajar dari sejarah” sehingga mampu menemukan nilai-nilai kearifan hidup yang akan sangat bermakna dalam upaya membangun peradaban bangsa yang jauh lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Nah, selamat berdiskusi!

Begitulah ketika guru bertemu dengan pengarang. Para guru berusaha menggali pengalaman-pengalaman kreatif dari para pengarang secara langsung sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan dan pemerkaya pengetahuan ketika harus tampil di depan peserta didiknya dalam menyajikan materi penulisan cerpen.

Begitulah ketika guru bertemu dengan pengarang. Para guru berusaha menggali pengalaman-pengalaman kreatif dari para pengarang secara langsung sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan dan pemerkaya pengetahuan ketika harus tampil di depan peserta didiknya dalam menyajikan materi penulisan cerpen.

“Kesaksian Literer” di Balik Kisah-Kisah Kemanusiaan | Catatan Sawali Tuhusetya

“Kesaksian Literer” di Balik Kisah-Kisah Kemanusiaan | Catatan Sawali Tuhusetya

Sudah lama negeri kita dikenal sebagai negeri yang kaya budaya. Hampir setiap daerah memiliki corak budaya yang khas sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang diangkatnya.

Sudah lama negeri kita dikenal sebagai negeri yang kaya budaya. Hampir setiap daerah memiliki corak budaya yang khas sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang diangkatnya.

Gerakan Literasi melalui Aktivitas Penulisan Puisi | Catatan Sawali Tuhusetya

Gerakan Literasi melalui Aktivitas Penulisan Puisi | Catatan Sawali Tuhusetya

Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di ...

Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di ...

Ini soal klasik. Sejak tahun 2003, sastrawan Taufiq Ismail sudah mempersoalkannya. Diawali dengan melakukan survei sederhana dengan mewawancarai tamatan SMU dari 13 negara. Meski hanya berupa snapshot dan potret sesaat, hasilnya benar-benar membuat kita tersentak.

Ini soal klasik. Sejak tahun 2003, sastrawan Taufiq Ismail sudah mempersoalkannya. Diawali dengan melakukan survei sederhana dengan mewawancarai tamatan SMU dari 13 negara. Meski hanya berupa snapshot dan potret sesaat, hasilnya benar-benar membuat kita tersentak.

Senja Kala di PancalaBola mata Prabu Drupada membelalak. Jidatnya berkerut. Wayang bertampang sangar dengan brengos lebat melintang di atas belahan bibir tebal itu benar-benar terusik oleh kehadiran seorang brahmana gembel dan dekil yang tiba-tiba nyelonong di tengah-tengah pertemuan. Yang bikin darahnya mendidih, brahmana kurus bermata cekung itu tanpa unggah-ungguh dan subasita langsung mak grapyuk merangkul erat-erat.radya: Catatan Sawali Tuhusetya

Senja Kala di PancalaBola mata Prabu Drupada membelalak. Jidatnya berkerut. Wayang bertampang sangar dengan brengos lebat melintang di atas belahan bibir tebal itu benar-benar terusik oleh kehadiran seorang brahmana gembel dan dekil yang tiba-tiba nyelonong di tengah-tengah pertemuan. Yang bikin darahnya mendidih, brahmana kurus bermata cekung itu tanpa unggah-ungguh dan subasita langsung mak grapyuk merangkul erat-erat.radya: Catatan Sawali Tuhusetya

Wisran Hadi pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu yang berisi empat naskah drama: ”Senandung Semenanjung”, ”Dara Jingga”, ”Gading Cempaka”, dan ”Cindua Mato”. Atas karyanya itu, almarhum mendapatkan penghargaan South East Asia (SEA) Write Award 2000.

Wisran Hadi pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu yang berisi empat naskah drama: ”Senandung Semenanjung”, ”Dara Jingga”, ”Gading Cempaka”, dan ”Cindua Mato”. Atas karyanya itu, almarhum mendapatkan penghargaan South East Asia (SEA) Write Award 2000.

Begitulah suasana hajatan bertajuk “Menafsir Kelelahan: Setangkup Doa atas 100 Hari Berpulangnya Kawan Tercinta: Ida Nursanti Basuni” yang digagas penyair Farhan Satria itu. Syahdu dan mengharukan.

Begitulah suasana hajatan bertajuk “Menafsir Kelelahan: Setangkup Doa atas 100 Hari Berpulangnya Kawan Tercinta: Ida Nursanti Basuni” yang digagas penyair Farhan Satria itu. Syahdu dan mengharukan.

Kelambanan kolektif kita, ujar Taufiq Ismail suatu ketika, akan diterjang tanpa ampun oleh kencang lajunya peradaban milenium yang akan datan...

Kelambanan kolektif kita, ujar Taufiq Ismail suatu ketika, akan diterjang tanpa ampun oleh kencang lajunya peradaban milenium yang akan datan...

Sebagai seorang pengajar sastra yang sekaligus seorang kritikus, Pak Maman –demikian saya biasa menyapanya— agaknya sadar betul bahwa dunia sastra tak akan pernah sanggup berkembang secara dinamis apabila para pengamat dan kritikus bersikap soliter, sibuk dengan dunianya sendiri, dan berdiri di puncak menara gading keilmuan.

Sebagai seorang pengajar sastra yang sekaligus seorang kritikus, Pak Maman –demikian saya biasa menyapanya— agaknya sadar betul bahwa dunia sastra tak akan pernah sanggup berkembang secara dinamis apabila para pengamat dan kritikus bersikap soliter, sibuk dengan dunianya sendiri, dan berdiri di puncak menara gading keilmuan.