APRESIASI SASTRA

Pembelajaran Apresiasi Puisi dan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia

Pembelajaran Apresiasi Puisi dan Kompetensi Guru Bahasa Indonesia

Saya publikasikan kembali sebuah esai menarik karya Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi); salah satu penyair Indonesia asal Kalimantan Selatan yang cukup kreatif dan produktif. Tulisan ini cukup panjang karena disertakan juga beberapa puisi karya penyair asal Kalimantan Selatan yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi Memo untuk Presiden.

Saya publikasikan kembali sebuah esai menarik karya Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi); salah satu penyair Indonesia asal Kalimantan Selatan yang cukup kreatif dan produktif. Tulisan ini cukup panjang karena disertakan juga beberapa puisi karya penyair asal Kalimantan Selatan yang terkumpul dalam buku kumpulan puisi Memo untuk Presiden.

Kembali ke KTSP, Mengapa Jadi Repot?

Kembali ke KTSP, Mengapa Jadi Repot?

Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi: Teriakan Paling Lantang Dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan Oleh : Esti Ismawati Jejak Batu Sebelum Cahaya karya Ali Syamsudin Arsy adalah buku puisi ketujuh (paling akhir) terbitan Framepublishing Yogyakarta, Oktober 2014, dari serial ‘Gumam Asa’, yang dimulai dari tahun 2009 (‘Negeri Benang pada Sekeping Papan’), dan …

Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi: Teriakan Paling Lantang Dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan Oleh : Esti Ismawati Jejak Batu Sebelum Cahaya karya Ali Syamsudin Arsy adalah buku puisi ketujuh (paling akhir) terbitan Framepublishing Yogyakarta, Oktober 2014, dari serial ‘Gumam Asa’, yang dimulai dari tahun 2009 (‘Negeri Benang pada Sekeping Papan’), dan …

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya; Sitor Situmorang. Sastrawan kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1923 itu dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya di Apeldoorn, Belanda, 21 Desember 2014 dalam usia 91 tahun. Semasa hidupnya, almarhum tergolong sebagai sastrawan yang cukup produktif dan kreatif. Bahkan, A. Teeuw menyebutnya sebagai penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya …

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya; Sitor Situmorang. Sastrawan kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1923 itu dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya di Apeldoorn, Belanda, 21 Desember 2014 dalam usia 91 tahun. Semasa hidupnya, almarhum tergolong sebagai sastrawan yang cukup produktif dan kreatif. Bahkan, A. Teeuw menyebutnya sebagai penyair Indonesia terkemuka setelah meninggalnya …

Untuk mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi yang kondusif, Maria Utami berpendapat bahwa pemilihan bahan ajar menjadi faktor yang p...

Untuk mewujudkan proses pembelajaran apresiasi puisi yang kondusif, Maria Utami berpendapat bahwa pemilihan bahan ajar menjadi faktor yang p...

berharap yang lain bicara, tak ada suara orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan daun rindang belantara, sementara kita di...

berharap yang lain bicara, tak ada suara orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan daun rindang belantara, sementara kita di...

Sebagai sebuah tafsir, cerpen tentu saja tak hanya sekadar mengalihkan berbagai fenomena hidup dan kehidupan itu ke dalam sebuah teks semata...

Sebagai sebuah tafsir, cerpen tentu saja tak hanya sekadar mengalihkan berbagai fenomena hidup dan kehidupan itu ke dalam sebuah teks semata...

Terlepas dari semua itu, yang pasti sebuah prestasi telah ditelorkan oleh Ali Syamsudin Arsi. Paling tidak, buku ini dapat menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Namun, semuanya tergantung waktu. Bagaimana pun juga, waktu tetap akan mengadili karya sastra ini.*

Terlepas dari semua itu, yang pasti sebuah prestasi telah ditelorkan oleh Ali Syamsudin Arsi. Paling tidak, buku ini dapat menambah deretan daftar buku sastra di negeri kita tercinta ini. Namun, semuanya tergantung waktu. Bagaimana pun juga, waktu tetap akan mengadili karya sastra ini.*

Jumat, 1 April 2011, saya didaulat oleh sahabat-sahabat penggiat Kebun Sastra Kendal untuk mendampingi Gunawan Budi Susanto (atau lebih akrab disapa Kang Putu) untuk membedah buku kumpulan cerpen Jimat Kalimasadha bertitel Bom di Ruang Keluarga yang diterbitkan oleh Keluarga Penulis Kudus (KPK), Desember 2010.

Jumat, 1 April 2011, saya didaulat oleh sahabat-sahabat penggiat Kebun Sastra Kendal untuk mendampingi Gunawan Budi Susanto (atau lebih akrab disapa Kang Putu) untuk membedah buku kumpulan cerpen Jimat Kalimasadha bertitel Bom di Ruang Keluarga yang diterbitkan oleh Keluarga Penulis Kudus (KPK), Desember 2010.

Pinterest
Cari